Wapress Bulungan “Disini semua aliran seni diapresiasi”

Wapress Bulungan “Disini semua aliran seni diapresiasi”

Jakarta Info – Wapres, atau Warung Apresiasi Bulungan Jakarta Selatan, adalah sebuah tempat nongkrong yang cukup nyaman dimana setiap malam para pengunjung bisa menikmati makanan dengan harga yang lumayan murah, sambil menikmati penampilan grup band baru yang menunjukkan kebolehan mereka bermain musik di sebuah panggung permanen yang terletak di tengah warung.

Wapress sebenarnya merupakan perkembangan lebih lanjut dari komunitas Kelompok Penyanyi Jalanan (KPJ) yang telah terbentuk pada tahun 1982. Wapress sendiri baru resmi berdiri 19 Oktober 2002. Perlengkapan band, sound system, hingga kursi-kursi di Wapress pun merupakan sumbangan dari berbagai orang yang mencintai tempat itu.

Tempat yang bersahaja ini berada di bagian belakang kompleks Gelanggang Remaja Bulungan, Jakarta Selatan. Warung itu beratap asbes, berlantai conblock, dan panggung berlantai keramik seluas 3 x 7 meter persegi. Sebagian atapnya dibiarkan terbuka membuat udara segar mengalir lancar. Meski bersahaja, warung ini bukan sembarang warung.

Beragam hal—tak melulu hiburan populer arus utama—bisa dinikmati di tempat ini. Tak hanya blues, tetapi juga reggae, latin, musik daerah, jazz. Di sini, telinga diberi kesempatan untuk bunyi-bunyian yang berbeda. Kehadiran Wapress mempertahankan pamor Bulungan sebagai kawasan tongkrongan alternatif bagi warga Jakarta dan sekitarnya. Terlebih bagi yang telah jenuh dengan kegemerlapan kafe atau kelab.

  Wayang Golek Betawi Diantara Geliat Bisnis Ibukota

Di tempat ini, siapa pun boleh tampil dan berhak mendapatkan apresiasi. Wapress menjadi persinggahan lintas latar belakang sosial-ekonomi, lintas aliran seni, juga lintas bangsa. Dari penyanyi jalanan, band-band tak dikenal, seniman ternama maupun yang tak beken, selebriti, hingga birokrat silih berganti menghiasi panggung Wapress.

Wapress sejatinya merupakan wadah untuk menampilkan berbagai karya, tak cuma musik, tetapi juga karya sastra, lukis, film, tari, juga teater. Acara semacam bedah buku, pembacaan puisi, dan monolog pun kerap digelar di Wapress.

Wapress pun kerap menjadi pijakan awal musisi untuk meretas mimpi. Band Nidji, misalnya, sebelum populer juga berpentas di Wapress. Karena itu, tak jarang, Wapress kerap juga disinggahi band dari berbagai daerah di Indonesia. Kritikan atau masukan semacam itu bukanlah hal yang asing bagi band-band pemula yang berpentas di Wapress.

Mereka diwajibkan membawakan lagu karya mereka sendiri. Namun, lontaran kritikan tidak lantas mengurangi apresiasi pengunjung.

Wapress benar-benar terbuka bagi siapa saja, sekalipun tak membeli segelas minuman pun.

Leave a Reply

%d bloggers like this: